Gordy and I

(i got the idea from reading Lucid and yes Gordy and Sloane are cute!)

(yes this was posted on my old blog so if you’re reading this while thinking ‘anjir ini orang plagiat’ , no. and why would someone copy my writings they’re horrible. anyway, kalo tau blog lama aku diem-diem aja ya, malu soalnya)

(fuck this is such a long disclaimer)

Hujan yang mengguyur New York tidak menghentikanku untuk naik bis sampai Central Park. Mau bagaimana lagi, rasanya seperti menjemput janji yang terlalu cepat untuk diucapkan. Aku tidak mau membuat Gordy menunggu sampai malam, selain itu ibunya pasti akan mendatangi rumahku lalu mengucapkan kalimat semacam ‘Gordy tidak pulang ke rumah, berikan aku Sloane.’ Atau, ‘Mereka sudah berteman selama sebelas tahun dan hari ini adalah yang terakhir.’.

Lucu rasanya bagaimana pertemanan kami dimulai dari paksaan bagi Gordy untuk main ke rumahku tiap pukul empat sore. Ia anak laki-laki pirang yang tertutup, sementara aku gadis bermata hijau yang kelewat aktif. Ibu Gordy hampir memanggil psikolog karena Gordy enggan bicara selama dua minggu. Gordy sudah jauh lebih baik sekarang, kurasa penyakit cerewetku menular padanya.

Gordy dan aku selalu terbuka satu sama lain, seolah punya saudara kandung tidak cukup untuk membagi problema kami. Ia selalu dengan cerita tim basketnya yang gagal lolos babak final, aku dengan ceritaku sebagai penulis muda amatiran. Gordy sering melihatku berderai air mata, lebih dari yang seharusnya kuperlihatkan tapi ia tidak pernah protes. Ia tahu jauh di dalam lubuk hatiku, aku orang yang sama tertutupnya dengan versi lama Gordy, dan hanya kepadanyalah aku berani membuka diri.

Central Park tidak diguyur hujan, sebuah keajaiban. Gordy duduk di salah satu bangku panjang, berbekal kertas makanan berisi kentang goreng. Ia mengenakan bomber jacket berwarna abu-abu yang kuberikan natal kemarin, fakta yang menyenangkan.

“Ketahuilah, junk food dan taman kota tidak pernah jodoh.” Aku duduk di samping Gordy dan ia tersenyum. Anehnya aku tetap menerima dengan senang hati bungkusan makanan itu, Gordy tahu saja aku sedang lapar.

“Kau tidak menyisir rambutmu?”

“Tidak sempat,” tukasku sambil menjejalkan tiga buah kentang goreng ke dalam mulutku.

“Di bis?”

“Tadi aku tidak dapat tempat duduk dan harus berdiri. Kau tahu ‘kan pegangan bis? Kalau aku mengangkat tangan kananku sementara tangan kiriku berpegangan pada handle maka aku akan terlihat seperti simpanse.” Aku melirik Gordy dengan tatapan demi-Tuhan-kau-bercanda-ya.

Gordy menelusupkan tangannya ke dalam kantong mantelku, ia tahu aku selalu membawa sisir kecil di sana. Ia menghadapkan tubuhku sampai memandang jalanan Central Park lurus-lurus. Gordy mulai lagi, ia menyisir rambutku. Satu hal tentang dirinya; ia benci sesuatu yang berantakan. Aku selalu bilang agar pelan-pelan, tapi Gordy mirip ibuku. Ia menarik rambutku dari pangkal kepala dan melakukannya cepat-cepat. Setidaknya hasilnya rapi, ini termaafkan.

“Rambutmu lebih bagus dengan chestnut,” kata Gordy.

“Begitukah?”

“Hm.”

Aku mengangsurkan sepotong kentang  goreng, mulutnya menyambut jemariku. “Menurutmu aku jelek dengan burgundy?”

“Kau tidak terlihat seperti Sloane yang hobi menangkap ikan saat masih tinggal di Inggris.”

“Aku sedang melunturkan aksenku.”

“Itu juga tidak perlu. Berikan aku dua.”

Aku kembali mengangsurkan dua potong kentang goreng ke mulut Gordy. Kedua tangan Gordy masih sibuk menyatukan helaian rambutku ke dalam satu ikatan karet yang entah ia temukan di mana. Beberapa lansia yang melihat aktivitas kami tersenyum manis, dan rutinitas kesalahpahaman ini sudah dapat aku dan Gordy atasi di luar kepala. Tidak terhitung berapa banyak orang yang mengira kami sebagai pasangan—tapi aku tidak pernah menyalahkan mereka. Toh aku tidak mungkin menjelaskan panjang lebar kronologi mengapa aku bisa sebegini dekatnya dengan Gordy.

Kedekatan aku dan Gordy magis, kami tidak pernah mengekang tapi selalu tahu di mana akan menemukan satu sama lain. Gordy itu tampan, percayalah. Rambutnya pirang tapi selalu berubah kecokelatan di musim dingin, hidungnya bangir dan kedua bola matanya warna abu-abu memikat. Aku tak sanggup menghitung berapa kali ia putus dengan pacarnya akibat aku, katakanlah karena salah paham setelah membaca pesan singkat kami. Tapi ia tidak pernah membicarakan soal itu, pun tidak pernah memintaku menjaga jarak darinya. Setidaknya sejak sekolah menengah, ketika kisah cintanya dimulai. Aku pernah tiga kali menjalin hubungan dengan laki-laki dan sama denganku, Gordy juga enggan mengungkit-ngungkit. Kami meninggalkan dunia masing-masing tepat di belakang kami ketika bertemu, seperti hari ini.

“Tahu tidak Sloane? Kurasa kau dan aku akan menikah.”

“Oh ya?” aku tertawa dan memutar tubuhku ketika dirasa Gordy sudah selesai dengan kunciranku. Menatap kedua mata abu-abunya.

“Aku akan menyisir rambutmu tiap pagi dan menatap profilmu yang tengah sibuk dengan panekuk gosong. Tapi tetap saja kau akan memaksaku memakannya dengan sirup maple.” Gordy melanjutkan.

“Mengapa kau bisa berpikir demikian?”

“Suatu saat nanti akan terjadi, ketika kau dan aku sudah lelah dengan orang-orang yang sempat kita spekulasikan sebagai pasangan kita. Karena mungkin dengan cara inilah Tuhan mendekatkan kau dan aku.”

Aku memiringkan kepalaku. “Dengan mempertemukan kita selama berbelas-belas tahun dan menyadari bahwa kita selama ini hanya jalan di tempat?”

“Kurang lebih. Tapi lihat saja nanti, kurasa kau akan menemukan jodoh yang lebih baik daripada aku duluan.”

Aku kembali tertawa, mungkin Gordy tidak ingat kalau ia pernah membahas hal ini sebelumnya saat kami menonton semua seri Fast and Furious bersama. Tapi dibalik perkataan Gordy, aku tahu bahwa ia meyakinkanku kalau pintu selalu terbuka untuk kami, dan ia tidak pernah memaksa.

Hal ini sering terlintas di pikiranku, apa jadinya bila Sloane kecil yang baru pindah dari Southampton tidak punya tetangga bernama Gordy? Apa jadinya bila mereka baru bertemu di sekolah yang sama, sadar kalau punya kecocokan, menjalin, lalu memutuskan hubungan seperti bagaimana halnya pasangan-pasangan di luar sana?

Sebelum aku sempat menjawab, Gordy menghalau lamunanku. “Akan lebih baik kalau kau melamun di bioskop.”

“Kau mengajakku nonton?”

Gordy berdiri dan memandangku kesal. “Kau tahu kan di bioskop hanya bisa nonton?”

Aku memukul pelan pinggang Gordy dan ikut berdiri. Mengekornya sampai bioskop sambil menggodanya dengan gosip seorang pemandu sorak yang naksir padanya, sementara ia menjitak dahiku.

end

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s