Hobi

Waktu itu saya pernah ngobrol sama kakak saya, di depan televisi, she played with her phone and I casually asked her “Teh perlu nggak sih punya hobi.” dan tanpa pikir lama-lama (saya juga lupa apa dia sempat lihat saya dulu atau nggak) dia langsung jawab “Iya.”

walaupun cuma tiga huruf, tapi efeknya masih kerasa sama saya.

I still believe that hobby is one of several factors that literally saves people from dying. Capek nugas? Jahit aja. Capek kerja? Renang sana. What makes hobby pleasing is that we tend to do them for sweet escape. Jahit, renang, dan hobi-hobi lainnya nggak mungkin kamu kerjain setiap hari unless you’re a/an tailor/athlete tapi poin saya di sini adalah, berbahagialah kalau kamu punya hobi. Karena ada orang-orang di luar sana yang bahkan bingung pas ditanyain hobinya apaan. Dan ketika mereka capek ngerjain hal-hal daily basis yang nggak menyenangkan, mereka cuma bisa berbaring di kasur.

Pst, saya kasih tahu ya, berbaring di kasur nggak bakalan mengehentikan otak mereka buat mikirin hal-hal trivial yang nggak perlu. Dari kenapa bebek kalo jalan tertib sampe konstipasi wahyudi.  Contohnya; saya.

So here I am, counting my days while watching my soul getting rotten. Day by day.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s