Parameter Kedekatan

Saya tidak (terlalu) suka dekat dengan seseorang. Seberapa jauh saya mengenal pribadi seseorang adalah ukuran kebahagiaan saya dan rumusnya tidak pernah berbanding lurus. Kalau boleh jujur malah tidak pernah ada rumusnya, tadi itu cuma keren-kerenan doang.

Nggak deng, skor senilai enam puluh sampai tujuh puluh poin sepertinya terdengar bagus.

 

Bagi saya, kedekatan saya dengan orang selain keluarga saya adalah suatu investasi. Secara literal kamu mengorbankan banyak hal untuk meningkatkan parameter kedekatanmu.  Sebut saja emosi, perasaan, dan waktu. Ketika kamu menghabiskan tiga jam untuk mengetahui seluk-beluk seseorang, kamu bisa berbaring di kasur sambil menghabiskan dua episode Gotham, membuat panna cotta saus karamel karena damn kayaknya enak banget I’m craving for some rn, atau bahkan berpikir selama tiga jam itu kamu seharusnya udah ngapain aja.

And  most of the time I get really disappointed with knowing people a little bit too deep.

I never really stated that knowing people is bad tho. Balik lagi ke pelajaran PPKn pas SD bahwa manusia adalah makhluk sosial (you literally can do nothing without other people so stop being an anti social social bitch who’s actually demanding for attention). 

Tapi menurut saya ada garis tipis di sini, semacam yang menjaga harapan, emosi, serta privasi orang yang kamu kenal. Dan misal garis tipis itu saya lewatin sedikit aja, ada bagian dari diri saya yang bakalan ngerasa gak nyaman. Bakalan muncul pikiran-pikiran semacam “Gue terlalu kenal orang ini plis mundur gak ya?” “Tuh kan jadi sering tubir gara-gara ini.” dan banyak lagi.

Jadi intinya? Ya yaaaaaaa knowing people is good tho you just have to keep your limit. Nah kalo kayak gini caranya gimana gua bisa punya pacar ya.

Advertisements

Surat

 

Kutuliskan surat

pada napasmu yang memburu

pada detak jantungmu seolah allegro

juga pada waktu yang melesap di tiap kerlinganmu

 

Kutuliskan surat

pada persepsimu yang meredup

pada tiga puluh menit percakapan yang semoga kaulupakan

juga pada air mata yang kausimpan di satu sisi ruang

 

Kutuliskan surat

padamu yang tenggelam,

melayang,

hilang,

habis

 

lalu kubisikkan kata-kata untuk yang kedua kalinya

jangan lagi jatuh cinta