Dering – Chapter 0

tumblr_static_tumblr_static_2vivps4k0tyc8scgg840occoo_640.jpg

Halo, cerita ini saya tulis karena terinspirasi fiksi ‘Chasing Summer’ yang saya baca di AFF. Udah sih gitu aja hehe. Hehe. Minggu depan/kalau sempat bakalan saya update chapter selanjutnya. Ini semacam prolog, tapi udah masuk ke cerita kok (ya iyalah). Hehe. Selamat membaca!

Bara Abdilla menatap langit-langit kamarnya. Ia menutup mata dan saat kembali membuka matanya, Bara dapat merasakan kedua bola mata yang terlampau ia kenal itu menatapnya balik. Di atas sana, di atap indekosnya. Atau mungkin menggantung di awan gelap pukul dua pagi. Di mana pun, tapi Bara yakin ia ada di sana. Menatap Bara dengan sendu, kedua bibirnya lantas berucap “Ngga papa Bara, bukan salahmu ….”

Tanpa kesadaran sepenuhnya, Bara mengangkat ponsel. Menghubungi kontak yang namanya sudah ia hapal di luar kepala. Dan dua detik setelahnya, hatinya seolah berguling ke lantai.

Tersambung. Nomor itu tersambung. Kepada siapa pun di ujung telepon sana. Napas Bara memburu seiring dengan deringan telepon yang memenuhi kepalanya. Semakin dering itu bertambah, semakin pecah kepala Bara. Dan tepat di dering ke lima, suara seorang perempuan yang bahkan tak dikenalnya menyambut dari seberang sana.

“Halo?”

Bara membeku. Ia membuka dan menutup mulutnya, tapi tak ada satu kata pun yang mampu terucap. Dan tanpa ia sadari, ia terisak. Malam itu, pukul dua pagi, di pertengahan bulan April yang suhunya terlalu menyesakkan dada Bara, ia benar-benar merasa tercekik.

Dan untuk pertama kali dalam lima tahun belakangan, Bara merasa hidup kembali.

*

Danastri Ghania memijat pelan keningnya yang berdenyut. Kursor laptopnya yang berkedip konstan seolah menertawakan ia dan segala aksaranya yang gagal disambung satu-persatu. Ghani yang muak memutuskan untuk memutar salah satu lagu dalam player-nya tapi baru lima detik berjalan, Ghani kembali mematikannya. Ia menyender ke kepala kursi, menatap langit-langit rumahnya yang polos dan tidak dicat dengan benar.

Untuk beberapa detik, Ghani sempat berpikir untuk membeli cat dengan gajinya bulan ini. Mungkin akan ia diskusikan dengan Ibu pagi nanti, tapi ia sudah mampu membayangkankan kerutan kening di ibunya dan kekehannya yang merdu.

Tepat saat itu ponselnya berdering. Ghani terlonjak, menyesuaikan detak jantung sambil menertawai sifat kagetan-nya yang menyusahkan. Matanya menyusuri deretan nomor yang tak dikenal tersebut. Kerabat? Teman sekampusnya? Ghani tahu, nyaris seratus persen sambungan telepon pukul dua pagi akan didominasi dengan orang iseng.  Setelah perdebatan di pikirannya, Ghani tetap memutuskan untuk menekan tombol hijau.

“Halo?”

Ia disambut keheningan. Ghani mengerutkan kening, tangannya mengelus permukaan mouse laptop, tak lantas menutup sambungan tersebut. Lambat laun ia dapat dengan jelas mendengar napas yang terputus-putus di seberang sana. Seperti ditahan beban berkilo-kilo dan ketika ia hampir mengulang kalimat pertamanya, ia mendegar suara isakan.

‘Laki-laki,’ gumam Ghani.

Ghani masih terdiam.

“Maaf … maafin saya ….”

Pengucapannya terdengar lirih, diseret napasnya yang tidak teratur, Ghani sempat sangsi kalimat tersebut ditujukan untuknya. Dan semakin detik bergulir, ia semakin yakin. Kalimat itu tidak benar-benar untuknya.

Hening. Hanya ada sahutan napas Ghani dan si lelaki yang tak dikenalnya di ujung telepon, serta distorsi sinyal di tengah panggilan telepon. Tanpa banyak pertimbangan, Ghani memutar salah satu lagu dalam music player laptopnya. Ia menurunkan ponsel, menaruhnya di samping sumber suara, dan tanpa sadar ia bergumam, “siapa pun itu, semoga ia memaafkan Anda.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s