Parameter Kedekatan

Saya tidak (terlalu) suka dekat dengan seseorang. Seberapa jauh saya mengenal pribadi seseorang adalah ukuran kebahagiaan saya dan rumusnya tidak pernah berbanding lurus. Kalau boleh jujur malah tidak pernah ada rumusnya, tadi itu cuma keren-kerenan doang.

Nggak deng, skor senilai enam puluh sampai tujuh puluh poin sepertinya terdengar bagus.

 

Bagi saya, kedekatan saya dengan orang selain keluarga saya adalah suatu investasi. Secara literal kamu mengorbankan banyak hal untuk meningkatkan parameter kedekatanmu.  Sebut saja emosi, perasaan, dan waktu. Ketika kamu menghabiskan tiga jam untuk mengetahui seluk-beluk seseorang, kamu bisa berbaring di kasur sambil menghabiskan dua episode Gotham, membuat panna cotta saus karamel karena damn kayaknya enak banget I’m craving for some rn, atau bahkan berpikir selama tiga jam itu kamu seharusnya udah ngapain aja.

And  most of the time I get really disappointed with knowing people a little bit too deep.

I never really stated that knowing people is bad tho. Balik lagi ke pelajaran PPKn pas SD bahwa manusia adalah makhluk sosial (you literally can do nothing without other people so stop being an anti social social bitch who’s actually demanding for attention). 

Tapi menurut saya ada garis tipis di sini, semacam yang menjaga harapan, emosi, serta privasi orang yang kamu kenal. Dan misal garis tipis itu saya lewatin sedikit aja, ada bagian dari diri saya yang bakalan ngerasa gak nyaman. Bakalan muncul pikiran-pikiran semacam “Gue terlalu kenal orang ini plis mundur gak ya?” “Tuh kan jadi sering tubir gara-gara ini.” dan banyak lagi.

Jadi intinya? Ya yaaaaaaa knowing people is good tho you just have to keep your limit. Nah kalo kayak gini caranya gimana gua bisa punya pacar ya.

Advertisements

Rumah

Home is always a vague thing for me.

Ketika sebuah  benda yang ada bentuknya dan bukan cuma kamu yang bisa lihat jadi manifestasi hal absolut, saya tidak selalu berpikir demikian. Contohnya rumah. Rumah selalu jadi hal yang tidak jelas, yang  kabur di ingatan saya, dan yang selalu saya taruh paling akhir sebagai daftar hal-hal yang harus saya pikirkan. Rumah menurut saya lebih dari dinding semen yang ada atap dan ada keran airnya. Kalau bisa ada kolam renangnya juga, atau kolam ikan deh. Rumah juga lebih dari sekadar ke mana kamu harus pergi ketika punggung kamu sakit dan kamu perlu bilang sama Mama “Mah pang pijitkeun lah heheheheh.”.

Rumah seharusnya punya ikatan emosional, tentang bagaimana kamu jatuh dari tangga waktu umur enam tahun, tentang Mama yang baru pulang sambil bawa parcel buah, tentang bagaimana tetangga kamu datang sambil nawarin jambu air satu plastik. Rumah menurut saya, seharusnya menyimpan sekeping memori tentang kamu dan keluargamu.

Masalahnya, manusia terus berubah. Kakak laki-laki  yang kemarin kamu temui setiap pulang sekolah kini sudah pindah ke luar kota. Kakak perempuan yang kamu ajak berantem setidaknya seminggu dua kali kini harus dibuatkan jadwal. Ibu yang kamu peluk tiap susah tidur ada di kota lain. Dan ayah yang tidak pernah kamu temui sudah terkubur dua meter di bawah sana. Dan kamu, mungkin, juga akan pergi. Sejauhnya, mungkin saja tiga ribu kilometer dari sini.

Rumah, seharusnya langsung terbesit di pikiran kamu tanpa perlu berpikir dua kali ‘Rumah yang mana?’.

Hobi

Waktu itu saya pernah ngobrol sama kakak saya, di depan televisi, she played with her phone and I casually asked her “Teh perlu nggak sih punya hobi.” dan tanpa pikir lama-lama (saya juga lupa apa dia sempat lihat saya dulu atau nggak) dia langsung jawab “Iya.”

walaupun cuma tiga huruf, tapi efeknya masih kerasa sama saya.

I still believe that hobby is one of several factors that literally saves people from dying. Capek nugas? Jahit aja. Capek kerja? Renang sana. What makes hobby pleasing is that we tend to do them for sweet escape. Jahit, renang, dan hobi-hobi lainnya nggak mungkin kamu kerjain setiap hari unless you’re a/an tailor/athlete tapi poin saya di sini adalah, berbahagialah kalau kamu punya hobi. Karena ada orang-orang di luar sana yang bahkan bingung pas ditanyain hobinya apaan. Dan ketika mereka capek ngerjain hal-hal daily basis yang nggak menyenangkan, mereka cuma bisa berbaring di kasur.

Pst, saya kasih tahu ya, berbaring di kasur nggak bakalan mengehentikan otak mereka buat mikirin hal-hal trivial yang nggak perlu. Dari kenapa bebek kalo jalan tertib sampe konstipasi wahyudi.  Contohnya; saya.

So here I am, counting my days while watching my soul getting rotten. Day by day.